Kamis, Juli 7, 2022

HET Minyak Goreng Dicabut, DPR Buru-buru Panggil Mendag Muhammad Luthfi Minta Penjelasan

Kanalbdg.com – Ketua DPR RI Puan Maharani mau meminta penjelasan langsung dari pemerintah soal dicabutnya kebijakan harga eceran tertinggi (HET) bagi sebelah jenis minyak goreng. Karenanya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi akan dipanggil.

DPR RI berencana memanggil Mendag Lutfi buat membahas persoalan minyak goreng itu. Puan meminta agar Lutfi dapat menghadiri undangan dari DPR RI.

“Apalagi pemerintah baru saja memutuskan mencabut kebijakan esa harga minyak goreng. DPR menunggu penjelasan dari pemerintah terkait hal ini,” kata Puan dalam keterangannya, Kamis (17/3/2022).

Menurut Puan permasalahan minyak goreng harus segera dirampungkan dalam masa sesingkat-singkatnya. Mengingat kelangkaan minyak goreng nan berujung kepada kenaikkan harga sudah memproduksi resah serta sukar masyarakat.

Melafalkan Juga:
Riau Memperoleh Jatah 2.000 Ton Minyak Goreng Murah Tiap Pekan dari Kemendag

Apalagi, menjelang bulan Ramadan polemik soal minyak goreng tetap saja terjadi.

“Kami berharap persoalan kelangkaan minyak goreng dapat segera beres. Kita juga meminta agar pemerintah memastikan segera menormalkan kembali harga minyak goreng sebelum Lebaran,” ucap Puan.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia atau IKAPPI Reynaldi Sarijowan menilai dicabutnya kebijakan harga eceran tertinggi/HET pada sebelah jenis minyak goreng membuktikan roadmap tata niaga pangan.

Pasalnya, pemerintah lanjut mengganti kebijakan pangan dalam masa cepat, tanpa memandang dampak nan terjadi ke depannya.

“Jadi hari ini jernih bahwa pemerintah tak punya roadmap, tak punya tata niaga pangan nan jernih proyeksinya ke ambang,” ujar Reynaldi saat dihubungi, Rabu (16/3/2022).

Melafalkan Juga:
Soroti Minyak Goreng di Tanah Air Sangat jarang, Peneliti UGM Hempri Suyatna: Pemerintah Perlu Perketat Pengawasan Pembagian

Menurut Reynaldi, kebijakan HET juga tak beraksi di pasar. Malah, harga-harga pangan seperti minyak goreng kemasan niscaya melampaui HET. Ia menuturkan, hal ini karena pasar mempunyai mekanisme tersendiri dalam industri perdagangan, misalnya eksis tawar menawar antara pedagang dengan pembeli.

“Tentu HET tak beraksi sama sekali, sejak dulu. Seperti daging nan HET-nya Rp105 ribu sudah tembus Rp140 ribu, cabai rawit merah nan HET-nya di penjagapintu Rp35 ribu tapi harganya sudah Rp77 ribu lebih,” kata beliau.

Reynaldi meminta kepada pemerintah agar mengundang para pedagang pasar buat memproduksi suatu kebijakan. Hal ini agar, kebijakan pemerintah dapat menguntungkan seluruh pihak.

“Undang seluruh stakeholder, terutama pelaku pasar adalah pedagang. Kami harus dilibatkan agar kita punya proyeksi ke ambang, agar aturan atau Permendag nan di lakukan ini dapat pas,” imbuh beliau.

Pemerintah mengubah skema penetapan harga minyak goreng curah maupun kemasan. Ke ambang, hanya minyak goreng curah saja nan ditetapkan harga eceran tertinggi/HET, sedangkan minyak goreng kemasan akan diserahkan produsen buat penetapan harganya.

Artinya, produsen bebas menetapkan harga minyak goreng kemasan nan dijual ke masyarakat.

“Jadi, mengembalikan ke harga pasar fana buat minyak goreng curah HET menjadi Rp14.000 per liter. Harga pasar buat kemasan artinya diserahkan ke produsen,” ujar Oke saat dihubungi, Rabu (16/3).

Oke melanjutkan, dalam kebijakan HET tersebut harga minyak goreng curah tersebut naik dari Rp11.500 per liter menjadi Rp14.000 per liter.

“Betul dicabut, tapi tak semuanya hanya HET kemasan. Buat curah diubah menjadi Rp14 ribu per liter,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.